Sebuah judul yang sepertinya merupakan ungkapan kekesalan dan keputusasaan. Tapi memang itulah yang sedang terjadi di negara kita Indonesia tercinta ini. Pendidikan merupakan barometer suatu kesuksesan bangsa. Kesuksesan diukur dari tingkat pendidikan warganya. Sepertinya sekarang ini wujud kegagalan mulai tampak dengan semakin mahalnya biaya pendidikan.
Setelah hampir 63 tahun Indonesia merdeka, bangsa ini menjalani kegiatan rutin pembangunan. Memang dari segi fisik terlihat kemajuan yang bersifat modern dengan semakin banyaknya gedung bertingkat menjulang di tengah kota Jakarta. Tapi apabila ditilik dari segi yang lain sebenarnya ada suatu keterpurukan bangsa, yang memperlihatkan bahwa pembangunan tidak berhasil di negeri ini. Pendidikan, hal itulah yang mungkin dilupakan oleh pemerintah sekarang ini. Dibandingkan dengan negeri tetangga seperti Malaysia, kita semakin ketinggalan. Mereka memberikan pendidikan secara gratis kepada masyarakatnya sehingga semua mendapatkan hak yang sama dalam bidang pendidikan. tapi apa yang terjadi di negeri ini, anak-anak pandai dan berprestasi di sekolah justru tidak mempunyai kesempatan untuk mengenyam pendidikan yang seharusnya menjadi hak mereka. Begitu mirisnya hati ini, ketika mendengar peringkat tertinggi UAN SMU Jawa Timur tidak bisa kuliah karena memang tidak punya biaya. Betapa bergolaknya batin ini ketika anak orang kaya, dengan kemampuan pas-pasan justru mengisi quota di Perguruan Tinggi Negeri karena mereka berani membayar 35 – 45 juta sebagai sumbangan biaya masuk kuliah. Bagaimana indonesia mendapatkan generasi penerus yang handal apabila kebijakan tersebut diteruskan. Yang mungkin didapat adalah generasi yang korup untuk tambah menghancurkan bangsa ini. Sudah saatnya pemerintah berpikir, mengalokasikan anggaran yang tepat untuk pendidikan sehingga pendidikan betul-betul mengena terhadap semua lapisan. Apabila pemerintah tidak bisa berpikir bahwa SDM adalah bagian yang harus dibangun terlebih dahulu untuk mencapai kemajuan bangsa, tepatlah judl diatas bahwa ” Rakyat Miskin Dilarang Sekolah”.
July 15, 2008 at 1:10 pm |
Lalu, sebaiknya apa yang harus kita lakukan?
July 15, 2008 at 3:51 pm |
iya, dan orang miskin juga dilarang sakit, dilarang bepergian, dilarang punya rumah, dilarang bekerja, dilarang apa saja kecuali menjadi miskin…
October 29, 2008 at 2:22 pm |
Kayaknya judulnya nggak orisinil yah? hehehehehe
Pernah baca judul serupa tahun 2000 awal, buku dengan judul ini deh, satu seri dengan orang miskin dilarang sakit….
bener nggak sih?
October 30, 2008 at 9:20 am |
ya nggak dong..orisinil gitu loh..ide dan kondisinya aja yang sama sehingga muncul inspirasi yang hampir serupa hehe..